Gunung Tambora; Gunung di Pulau Sumbawa yang Pernah Mendunia

Gunung Tambora di Sumbawa
Gunung Tambora di Sumbawa

Merupakan pulau terbesar di provinsi Nusa Tenggara Barat dan dibatasi oleh Selat Alas di sebelah barat, Selat Sape di sebelah timur, Samudera Hindia di sebelah selatan, serta laut flores di sebelah utara membuat Pulau Sumbawa menjadi salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi di Indonesia. Pada tahun 2016 saja Sumbawa menyumbang 10% dari total wisatawan mancanegara nasional, tidak kalah dengan Pulau Lombok ataupun Pulau Bali.

Dikelilingi oleh berbagai selat hingga samudera, membuat Pulau Sumbawa menjadi pulau surga bagi para wisatawan pecinta bahari. Ada Gili Keramat dan Gili Bedil yang biota lautnya tidak kalah indah dengan Trio Gili di Lombok. Terdapat berbagai macam pantai di Pulau Sumbawa, mulai dari Pantai Tropica dan Pantai Maluk yang ombaknya dimanfaatkan oleh para peselancar hingga Pantai Lawar dan Pantai Aik Kangkung yang masih perawan jarang dikunjungi wisatawan—saking perawannya bahkan warung makan sekalipun masih jarang dijumpai di kawasan ini. Saking indahnya wisata bahari di pulau ini, bahkan pelabuhannya pun tergolong dalam pelabuhan terindah di Indonesia. Pelabuhan Poto Tano yang berada di ujung barat Sumbawa Barat ini dikelilingi oleh perbukitan hijau dan pulau-pulau kecil.

Tidak hanya wisata bahari, Pulau Sumbawa juga memiliki Gunung Tambora. Merupakan sebuah stratovolcano – gunung api kerucut – aktif yang terletak di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima. Pernah menjadi gunung tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 4.300 mdpl, hingga akhirnya meletus dahsyat pada April 1815 yang ‘menyusutkan’ Tambora menjadi 2.700 mdpl.

Letusan yang dialami Tambora pada April 1815 tercatat sebagai letusan terdahsyat di dunia. Volcanic Eruption Index Tambora pada saat itu mencapai skala 7, dimana letusan Merapi yang terjadi pada tahun 2010 ‘hanya’ mencapai skala 4. Dalam memoarnya – The History of Java – Thomas Stamford Raffles menuturkan bahwa letusan pertama Tambora yang terjadi pada 5 April 1815 terdengar hingga Pulau Jawa (Jakarta). Terdengar seperti meriam, berlangsung selama 15 menit hingga keesokan harinya. Gubernur Jenderal Hindia Belanda tersebut sempat mengira bahwa ledakan tersebut merupakan bunyi meriam jarak jauh yang menyerang pasukan di Yogyakarta.Pada 6 April 1815 hujan abu mulai menyelimuti Jawa Timur, dengan diiringi suara letusan yang terus terdengar hingga 10 April 1815. Letusan Tambora semakin intensif, hingga mengubah seluruh gunung itu menjadi cairan api yang mengalir. Hujan abu semakin dahsyat menyelimuti Jawa Barat dan Sulawesi Selatan, hingga akhirnya mereda pada tanggal 17 April 1815.

Material vulkanis yang dikeluarkan oleh letusan Tambora mencapai lebih dari 100km kubik atau 100 miliar meter kubik, dimana letusan Merapi ‘hanya’ mengeluarkan 150 juta meter kubik. Guncangan akibat dari letusannya pun memunculkan kawah sedalam 1.100 meter dengan diameter seluas 6.2 km.kepulan aspanya pun menyebar hingga ke Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan Maluku. Aerosol sulfat yang dikeluarkan tertahan di atmosfer hingga menghalangi sinar matahari ke bumi. Dampaknya terasa hingga setahun kemudian. Muntahan Tambora sanggup membuat Benua Eropa merasakan setahun tanpa adanya musim panas, yang kemudian dikenal dengan A Year Without Summer.

Letusan Tambora menyebabkan perubahan iklim yang sangat signifikan. Volcanic winter terjadi setelah Tambora meletus. Salju pernah turun di Amerika pada Bulan Juni 1816, yang mana seharusnya saat itu sedang terjadi musim panas. Pada 6 Juni 1816 diperkirakan salju turun setinggi setengah kaki di Northeastern United States. Akibat dari adanya volcanic winter ini membuat suhu iklim dunia turun sehingga mereduksi efek rumah kaca yang ada.

Pada masa ini langit di dunia pada saat sunrise maupun sunset menjadi sangat indah. Cahaya matahari terbiaskan oleh kelembaban atmosfer yang memunculkan warna langit yang hangat, menyeimbangkan gelapnya langit saat itu. Fenomena ini menginspirasi lukisan para Pelukis Eropa yang menunjukkan warna yang lebih kuning,lebih merah atau lebih oranye. Salah satunya adalah lukisan Chichester Canal milik J.M.W. Turner pada tahun 1828.

Akibat dari tidak adanya musim panas banyak tumbuhan dan hewan yang mati. Kelaparan terjadi dimana-mana. Para petani gagal panen dan peternak merugi akibat hewan peliharaannya mati. Tidak hanya masalah bahan pangan, transportasi juga menjadi masalah besar karena transportasi utama pada zaman itu adalah kuda. Karena ‘bencana’ ini Karl Drais menemukan inovasi baru yang bernama Laufmaschine atau dapat disebut juga Running Machine. Alat ini sangat mirip dengan sepeda yang kita kenal sekarang– tanpa adanya pedal.

Bencana musim dingin yang tak berkesudahan itu juga menginspirasi ‘lahirnya’ novel fiksi ilmiah berbumbu horor Frankenstein. Kala itu Mary Wollstonecraft Shelley sedang berlibur ke Jenewa dalam rangka liburan musim panas– yang tidak panas karena salju sedang turun. Karya itu terbit dalam tiga jilid di London pada 1818. Kesohoran kisah itu telah menginspirasi film-film horror pada abad berikutnya dan melegenda hingga kini. Tidak hanya kehancuran, sebuah bencana juga dapat menciptakan inovasi dan kreasi yang tidak terduga yang dapat kita nikmati saat ini.

Penulis:

Kartika, mahasiswa UNAIR jurusan Psikologi.

Referensi:

http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/04/150406_sainstambora

https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20150312084537-269-38573/cerita-dahsyatnya-letusan-gunung-tambora-200-tahun-lalu/

http://internasional.kompas.com/read/2017/04/17/15435261/hari.ini.dalam.sejarah.erupsi.gunung.tambora.berakhir

http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/01/10-fakta-sejarah-letusan-spektakuler-tambora

http://mentalfloss.com/article/73585/15-facts-about-year-without-summer

https://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Sumbawa

https://www.msn.com/id-id/travel/ideperjalanan/misi-ntb-untuk-pariwisata-pulau-sumbawa/ar-AAmardm?li=AAfuazm

http://wartakota.tribunnews.com/2017/11/13/berikut-destinasi-kelas-dunia-di-pulau-sumbawa

https://travelingyuk.com/wisata-sumbawa-barat/17383/

https://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Tambora

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *