Jalan-jalan Seru Ke Pulau Randayan dan Lemukutan, Bengkayang, Kalimantan Barat

Salah satu supir kapal klotok, dari pelabuhan Teluk Suak menuju Pulau Lemukutan
Salah satu supir kapal klotok, dari pelabuhan Teluk Suak menuju Pulau Lemukutan

Mengunjungi beberapa heritage di sebuah daerah lalu menikmati keindahan alamnya adalah salah satu kegiatan yang saya senangi, selain bisa menikmati keindahan alamnya saya bisa menemukan kearifan lokal yang ada di sana. Kali ini saya akan sedikit berbagi pengalaman saat saya pergi menuju pulau Randayan dan Lemukutan dari Kota Pontianak.

Saya bersama empat teman saya memutuskan untuk pergi (ngetrip) ke pulau Randayan yang terletak di Kabupaten Bengkayang. Kami pun memulai perjalanan dari Kota Pontianak pada jam 05:30 WIB setelah melaksanakan sholat shubuh. Kami memilih berangkat pagi-pagi sekali karena informasinya; kapal-kapal yang akan mengantar penumpang menuju Pulau Randayan atau Lemukutan beroperasi dari jam 07:00 WIB – 11:00 WIB saja. Selain karena informasi tersebut, saya pribadi sebelumnya pernah tertinggal kapal karena tiba di pelabuhan pada jam 14:30 WIB, jadi saya tidak nutut untuk naik kapal dengan harga penumpang reguler. Konsekuensinya bisa menggunakan kapal carter yang harganya sekitar 2jt rupiah. (hehehe mahal yah)

Untuk menuju ke pulau Randayan, dari Kota Pontianak kita terlebih dahulu pergi ke pelabuhan Teluk Suak di Kabupaten Bengkayang. Waktu tempuh dari Pontianak ke Pelabuhan Teluk Suak kurang lebih memerlukan waktu 2-3 jam. Kami memulai perjalanan dari kota Pontianak jam 05:30 WIB, tiba di Pelabuhan Teluk Suak jam 08:00 WIB. Di pelabuhan, kami langsung dihampiri oleh ibu-ibu yang punya lahan parkir mobil di dekat penyebrangan kapal, ibu itu pun menawari kami jasa antar ke pulau Randayan dengan menggunakan speed boat, kebetulan saat itu ada satu keluarga berjumlah 4 orang yang akan menggunakan jasa speed boat dari ibu itu. Jadi ibu itu merekomendasikan kami berlima untuk bergabung dengan keluarga itu, jadi harga perorangnya bisa 60 ribu. Kami pun berpikir; “wah ini kesempatan, kalo menggunakan speed boat waktu tempuh ke pulau akan lebih cepat dibandingkan dengan kapal reguler atau kapal klotok itu”. Kami berlima pun sepakat untuk mengambil tawaran ibu tersebut. Setelah hampir satu jam kami berlima dan satu keluarga itu menunggu, speed boat yang ditunggu tidak kunjung datang, karena alasan bermacam-macam dari ibu yang menawarkan sebelumnya, kami pun sedikit kesal dan lelah, akhirnya kami semua dan satu keluarga itu memutuskan untuk cancel order speed boat nya, kami semua pun memilih menaiki kapal klotok saja.

Pemandangan suasana pelabuhan Teluk Suak, Kabupaten Bengkayang.
Pemandangan suasana pelabuhan Teluk Suak, Kabupaten Bengkayang.

Karena memang sudah ada kapal klotok jurusan pulau Lemukutan dan Randayan yang parkir di penyebrangan, kami semua pun pergi menaiki kapal tersebut sambil menunggu penumpang lainnya. Setelah kira-kira 30 menit, penumpang dirasa cukup, kapal pun bergegas untuk pergi menuju pulau Lemukutan dan Randayan. Tarif harga Kapal Klotok ini, bila tujuannya hanya Pulau Lemukutan, Harganya 25Rb. Jika tujuannya ke Pulau Randayan, tarifnya ditambah 25Rb, karena memang jalurnya adalah ke pulau Lumukutan terlebih dahulu lalu pulau Randayan. Mendapat informasi dari supir kapalnya, waktu tempuh ke Pulau Lemukutan kurang lebih memakan waktu 1 jam, dari Pulau Lemukutan ke Pulau Randayan kurang lebih memakan waktu 1 jam juga. Jadi kami berlima ini kira-kira akan menghabiskan waktu kira-kira 2 jam di atas laut, karena tujuan kami adalah Pulau Randayan.

Kami, di atas kapal Klotok
Kami, di atas kapal Klotok.

Dalam perjalanan menuju pulau Lemukutan dan Randayan, mata kami berlima dimanjakan oleh keindahan alam pulau-pulau kecil di sekitarnya dengan air lautan yang bewarna hijau kebiru-biruan, pemandangan ini sangat indah dan kami sangat menyukainya, hehe. Pada saat itu juga di seberang pulau sedang terjadi hujan, jadi pemandangan mendung yang tidak merata membuat pemandangan itu unik dan indah.

Pemandangan pulau-pulau kecil saat perjalanan menuju Pulau Randayan. Awannya seperti itu karena di seberang pulau sedang hujan.
Pemandangan pulau-pulau kecil saat perjalanan menuju Pulau Randayan. Awannya seperti itu karena di seberang pulau sedang hujan.

Setalah berselang dua jam kami berlayar, akhirnya kami pun sampai di Pulau Randayan. Saat pertama kali sandar di Pulau Randayan, kesan pertama kami terhadap pulau ini memang indah, hamparan pasir putih dan warna air lautnya yang biru memang membuat kami terpesona dengan Pulau Randayan Ini. Ikan-ikan di laut pun dapat dengan mudah kita temui dari permuakaan, waw it’s so cool. Saat kapal sandar, bukan hanya kami berlima yang turun mengunjungi pulau Randayan, ternyata satu keluarga yang berencana menaiki speed boat itu sebelumnya, juga turun di Pulau Randayan, hehehe. Saat kami berjalan menuju pulau Randayan, kami disambut dengan petugas resort di sana, dia langsung menjabat tangan kami satu persatu, dan langsung mengatakan; “Selamat datang di Randayan, untuk masuk saja tarifnya Rp. 20.000 per orang, untuk piknik saja (no hotel, terserah mau tidur dimana hehe) itu tarifnya untuk lima orang Rp. 250.000”. Saya yang memang belum mengetahui ini, “waduh ini kok mahal banget yahh (maklum belum pada kerja semua, dan emang belum tahu)”. Setelah bernegosiasi kami pun sepakat memberi tahu kepada petugasnya; “keputusan piknik atau tidaknya nanti dulu pak, masih kami pikir-pikir”.

Bersihnya pasir pulau Randayan, dan birunya air laut pulau Randayan.
Bersihnya pasir pulau Randayan, dan birunya air laut pulau Randayan.

Kami memilih menikmati pantai di pulau Randayan dulu, foto-foto dan bermain air di tepian pantai yang sangat indah itu. Setelah berselang beberapa jam, entah karena apa, saat itu terjadi Hujan lebat, kami pun memilih berteduh dulu di dekat kantor Resort, hehe. Setelah sadar bahwa di pulau Randayan itu sepi dan wisatawan yang ada hanya kami berlima bersama satu keluarga itu, kami pun sedikit parno’ haha. Mulai dari takut hantu hingga manusia siluman datang ketika malam (hahaha). Selain itu, stok makanan di pulau ini juga sedang terbatas, ini informasi dari petugas resort, yang memang karena sedang tidak musim liburan, jadi makanan seadanya, seperti popmi dan nasi goreng saja. Akhirnya saat ketakutan dan berpikir yang tidak-tidak, Ayah dari keluarga itu menghampiri kami dan berkata; “Waduh, kita pindah aja yuk ke Pulau Lemukutan, selain hotelnya mahal, persediaan makanan disini sekarang lagi menipis, kita pindah ya?”. Kami pun juga sedikit mengiyakan lalu kami ragu dan berkata kepada bapak itu; “Memangnya ada kapal untuk ke Lemukutan pak, sekarang saja udah jam 16:30 WIB”. Namun bapak itu tetap meyakinkan kami; “Tenang saya bisa telpon orang kapal nanti”. Akhirnya kami berlima memilih untuk berdiskusi dulu dan mempertimbangkan segalanya, dari tenaga, perasaan dan juga uang, hehehe. Finally, kami pun sepakat untuk menyetujui tawaran bapak itu. (ternyata sama, bapak itu juga parno’ mungkin haha).

Bersihnya pasir pulau Randayan, dan birunya air laut pulau Randayan.
Bersihnya pasir pulau Randayan, dan birunya air laut pulau Randayan.
Salah satu sudut pandang di Pulau Randayan.
Salah satu sudut pandang di Pulau Randayan.

Kami pun menunggu kapal nya datang, setelah berselang beberapa menit akhirnya yang datang bukan kapal yang sedang kami bayangkan, akan tetapi yang datang hanya sebuah sampan kecil yang di belakangnya diberi mesin. Waduh, pikiran kami kacau; “bagaimana bisa kita 9 orang menaiki perahu itu dari Randayan ke Lemukutan, sedangkan ombak air laut sedang besar-besarnya, ya karena sebelumnya sedang hujan”. Akhirnya kami pun sedikit was was, namun supir perahu itu meyakinkan kami berlima, dia berkata; “Insya Allah bisa!”. Ya walaupun sebenarnya kami masih was –was. Namun daripada kami di Randayan sampai malam dengan kondisi seperti yang kami bayangkan sebelumnya (listrik tidak lancar, stok makanan menipis, dan pikiran parno tentang hantu haha). Akhirnya kami langsung menaiki perahu kecil itu satu persatu dalam kondisi ombak yang besar.

Saat kami bergegas menuju perahu kecil di Pulau Randayan menuju pulau Lemukutan.
Saat kami bergegas menuju perahu kecil di Pulau Randayan menuju pulau Lemukutan.

Perjalanan kami ke lemukutan dimulai sekitar pada jam 17:10, saat matahari ingin terbenam. Perjalanan kami saat itu adalah perjalanan yang sangat menegangkan, bagaimana tidak, ombak air laut benar-benar tidak tenang, kami seperti diombang-ambing oleh ombak. Di sepanjang perjalanan mulut kami komat kamit membaca setiap doa yang kami ingat, agar sampai dengan selamat, hehe. Di sela-sela menegangkan itu kami masih tetap bisa merasakan rasa ketenangan saat itu, dengan suguhan pemandangan matahari yang sedang terbenam, dengan pemandangan kampung-kampung nelayan di tepi pulau lemukutan, kami benar-benar hanyut dalam suasana kekluargaan ini. Juga dengan bapak sopir yang selalu bercerita tentang Randayan dan Lemukutan, pokoknya keren deh perjalanan dengan perahu kecil ini walaupun ada rasa tegangnya, hehe.

Sampai di Pulau Lemukutan, kira kira Jam 18:30 kami langsung diantar ke sebuah penginapan yang bernama Villa Hera, penginapan yang terletak di tepi lautan, tepat berada diantara rumah-rumah nelayan di Pulau Lemukutan. Di villa ini sangat unik, kita benar-benar diperlakukan seperti keluarga sendiri. Setelah kami mandi kami pun sudah disiapkan makan seperti makan keluarga gitu, saat itu menu makanannya telur goreng dan ikan laut segar digoreng. Kami berlima bersama satu keluarga yang bersama kami di Pulau Randayan sebelumnya, menyantap makanan bersama. Gelak tawa dan cerita mewarnai suasana makan kami, so sweet banget yah, hehe. Setelah makan kami pun tertidur pulas, bersiap siap untuk menyambut matahari terbit esok pagi.

Adzan shubuh berkumandang, saya pun terbangun, setelah melaksanakan aktivitas shubuh, saya pun mempersiapkan alat-alat kamera untuk mengambil timelapse matahari terbit di pulau Lemukutan. Ternyata pemandangannya benar-benar indah, kuningnya sinar matahari di atas lautan yang berwarna hijau dan pemandangan sebagian terumbu karang yang tampak di permukaan membuat komposisi pemandangan ini benar-benar cakep, Masya Allah, indah banget, hehe. Setelah puas menikmati matahari terbit, kami pun memilih untuk turun ke laut menikmati keindahan terumbu karang di pulau Lemukutan.

Pemandangan matahari terbit di villa Hera, Pulau Lemukutan.
Pemandangan matahari terbit di villa Hera, Pulau Lemukutan.
Pemandangan perahu-perahu nelayan saat pagi, di Pulau Lemukutan.
Pemandangan perahu-perahu nelayan saat pagi, di Pulau Lemukutan.

Baiklah para pembaca sampai disini cerita saya saat pergi menikmati pulau Randayan dan Lemukutan. Kedua pulau itu memang sangat indah dan dangat enjoy-able haha. Pulau Randayan dengan pasir putih dan air lautnya yang biru. Pulau Lemukutan dengan Terumbu Karang yang indah dan kearifan lokalnya yang membuat kita belajar pada interaksi sosial. So, perjalan ini benar-benar membuat kami selalu ingat akan kenangan saat pergi pada dua pulau ini.

Informasi Tambahan

  1. Perjalanan ke pulau Randayan dan Lemukutan bisa ditempuh dari Pelabuhan Teluk Suak di Kabupaten Bengkayang. Kapal klotok tersedia pada jam 07:00 – 11:00, dengan tarif: Lemukutan Rp. 25.000 (per orang), Randayan Rp.50.000 (per orang).
  2. Menuju ke pelabuhan Teluk Suak dari Kota Pontianak bisa menggunakan Motor, Mobil, atau jasa travel, sudah tersedia paket-paket travel di kota Pontianak.
  3. Tarif mengunjungi pulau Randayan, akan dikenakan 20.000 perorang, jika mau piknik (non hotel) dikenakan 50.000 per orang.
  4. Pulau Randayan tidak ada permukiman Penduduk, tidak seperti di Pulau Lemukutan yang rata rata adalah permukiman nelayan.
  5. Tarif penginapan di Villa Herva permalamnya Rp.250.000.
  6. Tarif Makan nya tergantung menu makanannya (Ada ikan laut, telur goreng, dan mie instan). Ternyata makanannya bayar juga haha. Untuk kalian yang ingin makan di villa Herva, bila ingin makan menu Ikan laut dan telur goreng, dan berjumlah lima orang, siapkan saja uang kira-kira Rp. 150.000, maaf ini perkiraan saja, soalnya waktu bayar kita totalan. Jadi saya lupa.

Comments

comments

2 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *